Harga ayam hidup anjlok usai Lebaran akibat produksi melimpah dan serapan lemah, Peternak mulai panik menghadapi kondisi pasar.
Pasar unggas mendadak dikejutkan dengan turunnya harga ayam hidup secara drastis setelah Lebaran. Kondisi ini membuat banyak peternak mulai merasa khawatir. Produksi yang melimpah tidak diimbangi dengan penyerapan pasar yang kuat, sehingga harga terus mengalami tekanan. Untuk mengetahui penyebab dan dampaknya, simak informasi lengkap nya dalam ulasan berikut hanya di Berita, Analisis, dan Peluang Bisnis.
Harga Ayam Hidup Anjlok Usai Lebaran
Harga ayam hidup (livebird) mengalami penurunan signifikan setelah periode Lebaran. Kondisi ini terjadi di berbagai sentra produksi dan langsung berdampak pada peternak. Penurunan harga ini dipicu oleh ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar. Produksi yang tinggi tidak diimbangi dengan penyerapan yang optimal.
Akibatnya, harga ayam hidup turun hingga berada di bawah biaya produksi. Situasi ini membuat banyak peternak mengalami kerugian. Fenomena ini menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi keberlanjutan usaha peternakan di berbagai daerah.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Penyebab Utama Penurunan Harga
Salah satu faktor utama anjloknya harga ayam hidup adalah kelebihan pasokan setelah Lebaran. Produksi yang sudah direncanakan sebelumnya tetap berjalan meskipun permintaan menurun. Selain itu, aktivitas pasar yang belum sepenuhnya pulih setelah libur panjang turut memengaruhi penyerapan ayam di tingkat pedagang.
Kondisi ini diperparah dengan menurunnya aktivitas rumah potong ayam yang biasanya menjadi salah satu penyalur utama hasil ternak. Akumulasi faktor tersebut menyebabkan terjadinya tekanan harga yang cukup tajam dalam waktu singkat.
Baca Juga: Bikin Penasaran! Kementan Jaga Harga Kedelai Rp11.500/kg, Ini Penjelasannya
Dampak Terhadap Peternak
Penurunan harga ini berdampak langsung pada pendapatan peternak. Harga jual ayam hidup yang berada di kisaran Rp18.000 per kilogram berada di bawah biaya produksi sekitar Rp20.000 per kilogram. Kondisi ini menyebabkan peternak mengalami kerugian sekitar Rp2.000 per kilogram. Kerugian tersebut dirasakan secara luas di berbagai wilayah produksi.
Sebagai respons, sebagian peternak mulai melakukan penyesuaian, seperti mengurangi jumlah produksi atau menunda pemeliharaan. Langkah ini dilakukan untuk menekan potensi kerugian yang lebih besar di tengah kondisi pasar yang belum stabil.
Strategi Penyesuaian Produksi
Untuk menghadapi kondisi ini, peternak mulai melakukan berbagai strategi. Salah satunya adalah mengurangi jumlah bibit ayam yang ditebar atau dikenal dengan istilah chick in. Selain itu, beberapa peternak memilih untuk memanen ayam dengan bobot lebih kecil agar dapat segera dijual di pasar.
Langkah ini diharapkan dapat membantu mengurangi kelebihan pasokan yang menjadi penyebab utama turunnya harga. Namun, strategi ini juga memiliki risiko karena dapat memengaruhi kualitas dan nilai jual ayam di pasar.
Peran Pemerintah Dan Harapan Stabilitas
Pelaku industri berharap adanya intervensi dari pemerintah untuk membantu menstabilkan harga di tingkat peternak. Salah satu usulan adalah penetapan harga minimal sesuai biaya produksi. Selain itu, koordinasi antar pelaku usaha dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar.
Pemerintah juga diharapkan dapat memberikan arahan yang lebih jelas terkait pola distribusi agar tidak terjadi penumpukan pasokan di satu wilayah tertentu. Pengaturan distribusi yang merata dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan di berbagai daerah. Dengan langkah yang tepat dan koordinasi yang baik, diharapkan harga ayam hidup dapat kembali stabil serta memberikan kepastian usaha bagi para peternak di masa mendatang.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari industri.kontan.co.id
- Gambar Kedua dari industri.kontan.co.id
