BNI sukses menyerap 16,3 juta saham lewat aksi buyback langkah ini dinilai memperkuat fundamental dan optimisme investor.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau Bank Negara Indonesia (BNI) menuntaskan aksi buyback dengan menyerap 16,3 juta lembar saham. Langkah korporasi ini menjadi sinyal positif bagi pasar di tengah dinamika sektor perbankan dan fluktuasi indeks saham. Aksi buyback umumnya dilakukan untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek kinerja perseroan. Keberhasilan BNI merampungkan program ini pun dinilai mempertegas komitmen perusahaan dalam memperkuat fundamental dan menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham.
Berikut ini Berita Bisnis akan menyimak lebih dalam bagaimana strategi besar ini diwujudkan.
BNI Rampungkan Buyback 16,37 Juta Saham
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau Bank Negara Indonesia (BNI) resmi menuntaskan program pembelian kembali saham atau buyback. Perseroan menyerap sebanyak 16.377.700 lembar saham dari pasar. Informasi tersebut disampaikan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Minggu 22 Februari 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi korporasi yang telah direncanakan sebelumnya. Program buyback tersebut merujuk pada persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS) pada 26 Maret 2025. Dalam forum tersebut, pemegang saham menyetujui alokasi dana maksimal Rp 1,5 triliun untuk aksi buyback, termasuk biaya terkait pelaksanaannya.
Pertimbangan Strategis Dan Kondisi Pasar
Keputusan menyelesaikan periode buyback mempertimbangkan situasi makroekonomi serta dinamika pasar modal. Perseroan juga memperhatikan kebutuhan pengalihan saham sesuai ketentuan yang telah disetujui RUPS. Manajemen menegaskan bahwa aksi korporasi ini dilakukan dengan tetap mematuhi regulasi dan perizinan yang berlaku. Seluruh proses dilaksanakan secara terukur guna menjaga stabilitas perusahaan. BNI memastikan pembelian kembali saham tidak mengganggu operasional maupun rencana ekspansi. Dengan struktur permodalan dan arus kas yang solid, perseroan tetap mampu menjalankan strategi bisnis secara optimal.
Baca Juga: Bulog Turun ke Pasar! Cara Baru Tekan Harga Pangan Yang Bikin Harga Turun Drastis!
Dampak Terhadap Valuasi Dan Kepercayaan Investor
Buyback yang telah dirampungkan dinilai tidak mengurangi tingkat kepercayaan investor. Hal tersebut tercermin dari pergerakan rasio price to book value (PBV) yang menunjukkan peningkatan. PBV perseroan tercatat naik dari 0,98 kali pada 26 Maret 2025 menjadi 1,01 kali pada 4 Februari 2026. Pada periode yang sama, harga saham juga bergerak naik dari Rp 4.250 menjadi Rp 4.630 per lembar. Kenaikan tersebut mencerminkan respons pasar yang positif terhadap langkah strategis BNI. Stabilitas valuasi menjadi indikator bahwa fundamental perusahaan tetap terjaga di tengah fluktuasi pasar.
Pengelolaan Saham Treasuri Dan Rencana Pengalihan
Saham hasil buyback disimpan sebagai saham treasuri atau treasury stock. Status ini memberikan fleksibilitas bagi perseroan untuk mengelolanya sesuai kepentingan jangka panjang. RUPS Tahunan telah menyetujui sejumlah opsi pengalihan saham treasuri. Di antaranya melalui program kepemilikan saham bagi pegawai serta Direksi dan Dewan Komisaris. Selain itu, pengalihan juga dapat dilakukan sesuai persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Skema tersebut dirancang untuk mendukung tata kelola perusahaan sekaligus meningkatkan keterlibatan internal.
Kinerja Keuangan 2025 Tetap Solid
Di tengah aksi korporasi tersebut, BNI mencatat kinerja keuangan yang impresif sepanjang 2025. Laba bersih konsolidasi mencapai Rp 20 triliun dengan pertumbuhan kredit 15,9 persen secara tahunan. Ekspansi kredit difokuskan pada sektor-sektor produktif guna menjaga kualitas portofolio. Strategi diversifikasi pembiayaan menjadi kunci dalam menghadapi tekanan ekonomi global.
Dari sisi pendanaan, pertumbuhan kredit didukung oleh kenaikan dana murah atau CASA sebesar 28,9 persen. Rasio kecukupan modal (CAR) berada di level 20,7 persen, memberikan ruang ekspansi yang memadai sekaligus menjaga ketahanan terhadap risiko. Kinerja operasional juga menunjukkan perbaikan signifikan. Pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) kuartal IV 2025 mencapai Rp 9,4 triliun, tertinggi sepanjang tahun tersebut. Net interest income (NII) tercatat Rp 40,3 triliun, sementara pendapatan nonbunga tumbuh 5,2 persen menjadi Rp 24,6 triliun. Pertumbuhan ini didorong peningkatan transaksi digital, treasury, dan trade finance.
Dari sisi kualitas aset, rasio non-performing loan (NPL) bruto membaik menjadi 1,9 persen. Loan at Risk (LaR) turun ke 8,5 persen, dengan tingkat pencadangan yang kuat tercermin pada coverage ratio yang tetap terjaga. Perbaikan indikator risiko tersebut menunjukkan efektivitas manajemen dalam menjaga kesehatan portofolio kredit. Pemanfaatan data analytics dan sistem peringatan dini turut memperkuat pengawasan pembiayaan. Dengan fundamental yang kokoh, aksi buyback dan kinerja keuangan yang solid menjadi kombinasi strategis. BNI optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan berkelanjutan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama: www.google.com
- Gambar Kedua: stockwatch.id
